| Judul | : | Rahasia Ikhlas |
| Metode untuk Berhati Tulus dan Berperilaku Lurus | ||
| Penulis | : | Syekh Izzuddin bin Abdussalam |
| ISBN | : | |
| Dimensi | : | 13 x 20,5cm |
| Halaman | : | 254 hlm/SC/Bookpaper |
| Bulan Terbit | : | Februari 2026 |
SINOPSIS
91 Kiat Menemukan Nikmat Taat
Lahir dari kedalaman makrifat seorang psikolog-muslim klasik, buku ini mengingatkan kita bahwa tiap perbuatan—yang sedemikian baik di mata manusia sekalipun—bisa sia-sia tanpa mengajak bicara hati kita: mengapa dan untuk apa kita beramal?
Syekh menuntun kita mengelola hati yang tulus dan perilaku yang lurus. Kepura-puraan yang kerap tak kita sadari dalam beramal dikupas, lapis demi lapis. Tak lagi disodori definisi, kita dilatih mendiagnosis beragam penyakit hati sekaligus cara mengobatinya. Praktis, sistematis, dan detail—menyengat kita betapa bukan penghambaan kepada Allah yang acap kita pertunjukkan saat beramal, melainkan kesombongan, ujub, dan ria.
Inilah saripati dari al-Ri‘âyah li Huqûqillâh mahakarya al-Muhasibi (abad ke-3 H) yang disebut-sebut oleh Imam al-Ghazali, “Penjelasan al-Muhasibi begitu memukau sehingga memang layak disajikan di tengah-tengah masyarakat.” Kitab rujukan yang relatif tebal itu lalu disentuh-ulang oleh Izzudin bin Abdussalam (abad ke-7 H)—sang penulis Syajaratul Ma‘ârif—hingga jadi lebih singkat-padat dan mudah dipahami.
Selamat mereguk kearifan dan keberkahan dari dua ulama-klasik ini dan bersiaplah menjadi pribadi yang lebih baik lahir-batin di hadapan Khalik dan makhluk-Nya.
DAFTAR ISI
Ya Allah, mudahkanlah!—13
- Simak dengan Baik Hal-Hal yang Patut Disimak—15
- Hak-Hak Allah yang Harus Dipelihara—16
- Cara Mendekat pada Allah—17
- Buah Takwa—19
- Periksa Ketakwaan Lewat Anggota Badan dan Perasaan—20
- Awal Menuju Allah—23
- Renungkan Perbuatan yang Sudah dan akan Dilakukan—25
- Mawas Diri terhadap Perbuatan Baik dan Buruk—28
- Tingkat Kesulitan Takwa dan Muhasabah—30
- Agar Takwa Terasa Mudah dan Ringan—32
- Boleh Takut karena Ingat Akhirat, tapi Jangan Berlebihan —41
- Tepis Bisikan Setan dan Nafsu—42
- Pelihara Hak-Hak Allah dengan Benar—47
- Dahulukan yang Patut Didahulukan —51
- Perkara Haram dan Syubhat tak Boleh Menopang Pelaksanaan Kewajiban—53
- Dahulukan Kewajiban yang Lebih Mendesak—54
- Jangan Jadikan Warak sebagai Dalih Perbuatan Haram—56
- Jangan Telantarkan Kewajiban dengan Alasan Kesempurnaan—57
- Jalankan Ibadah Sunnah Berdasarkan Tingkatannya—61
- Dua Ibadah Berderajat Sama,
Mana yang Didahulukan?—65 - Agar Senantiasa Bertakwa—67
- Luruskan Niat Sebelum Beribadah—73
- Ikhlas atau Riya?—77
- Kenapa Kita Riya?—79
- Riya Agar tak Dicela—82
- Riya Agar Beroleh Keuntungan dari Orang Lain—84
- Buah Kesalehanlah Motivasi Riya—85
- Kiat Memberangus Riya—86
- Pelaku dan Sarana Riya—89
- Cara Menepis Riya yang Dibisikkan Setan—93
- Cara Menepis Riya saat Beribadah —96
- Hukum Mewaspadai Godaan Setan—98
- Meninggalkan Ibadah karena Takut Riya?—101
- Kapan Kita Rentan terhadap Riya dan Sum‘ah?—103
- Tingkatan Riya dan Sum‘ah—107
- Sifat-Sifat Tercela Akibat Riya—111
- Tips Mengenali dan Mengusir Riya—115
- Bolehkah Bahagia karena Ibadah Kita Diketahui Orang Lain?—117
- Jangan Beribadah Sebelum Benar-Benar Ikhlas!—121
- Niat Hakiki dan Niat Hukmi—122
- Agar Senantiasa Ikhlas Kala Mengajari
dan Membantu Orang —124 - Agar Tetap Ikhlas Ketika Ibadah Dilihat
Orang Lain—125 - Hakikat Riya dan Ikhlas—127
- Perbuatan yang tak Mungkin Dilakukan
dengan Ikhlas—128 - Jika tak Tergerak saat Disuruh Beribadah—129
- Jika Awalnya Riya tapi Akhirnya Ikhlas—132
- Jika Tidak Bisa Tenang karena Dipuji Orang—134
- Haruskah Meninggalkan Ibadah karena Takut Dianggap Riya?—135
- Bolehkah Memperlihatkan Ibadah supaya Ditiru?—136
- Bolehkah Menceritakan Kebaikan Sendiri?—138
- Ibadah Tertutup Lebih Utama daripada Ibadah Terbuka—140
- Kapan Harus Meninggalkan Ibadah karena Takut Riya?—143
- Ibadah Umum dan Ibadah Khusus—144
- Bolehkah Beribadah karena Ingin Dicintai Orang?—146
- Patutkah Gelisah Jika Kekurangan Ibadah Diketahui Orang? —147
- Bolehkah Menceritakan Perbuatan Maksiat?—149
- Perbedaan Malu dan Riya—151
- Ikhwal Mencela Pelaku Maksiat—154
- Perlakukan dengan Setara Para Pemuji
dan Pencela—156 - Jangan Jadikan Riya sebagai Sarana Menaati Allah—158
- Agar Ikhlas saat Mencontoh Ibadah Orang —159
- Jangan Berpura-pura—161
- Pura-Pura Pingsan—163
- Cara Mengusir Keinginan Berpura-Pura—165
- Jika Tambah Khusyuk Ketika Dilihat Orang—167
- Cara Menggauli Orang Kaya dan Orang Miskin—168
- Cara Menjauhi Maksiat—170
- Cara Menyikapi Teman yang Pemaksiat—173
- Hawa Nafsu adalah Musuh Terbesar—175
- Waspadalah, Ujub Selalu Mengintaimu—182
- Ujub Terselip di Balik Kesempurnaan—187
- Cara Menepis Ujub—188
- Cara Menepis Ujub atas Pendapat yang Salah—189
- Cara Menepis Ujub atas Hal-Hal Keduniawian—191
- Sombong—197
- Sombong dengan Ilmu —200
- Sombong dengan Amal —201
- Sombong karena Riya—203
- Ujub dan Sombong Terselip di Balik Nikmat
dan Karunia—204 - Sombong dengan Karunia Duniawi—206
- Cara Menepis Rasa Sombong—208
- Jangan Sombong kepada Orang yang Lebih Buruk Darimu—212
- Perbedaan Iri dan Berlomba-lomba—215
- Usir Rasa Dengki—219
- Akibat Iri—220
- Dosa dan Akibat Iri—221
- Jangan Tertipu—222
- Cegah Diri dari Maksiat—225
- Ragam Orang Tertipu—226
- Akhlak Hamba saat Tidur dan Terjaga—240
- Waspadalah, Setan Dengki Jika Engkau Istikamah—246
Al-Muhâsibî, Sang Psikolog Muslim Klasik —248
Senarai Rujukan—253
